Kamis, 22 November 2012

anak manusia

book review fresh perspective


N. T. Wright. Paul: Fresh Perspectives. London: SPCK, 2005. 174 halaman.

Buku karangan N. T. Wright ini merupakan bahan kuliah yang Ia bawakan ketika mengajar di Cambridge University. Buku ini terdiri dari dua bagian besar yaitu yang ia beri judul Tema dan Struktur dan setiap bagian terbagi dari empat pasal. Dari judul buku ini terlihat jelas bahwa Wright tidak menghadirkan suatu studi tradisional tentang pemahaman Paulus melainkan suatu pemahaman yang baru tentang teologi Paulus. Hal tersebut tergambar dengan jelas pada bagian pengantar dari buku ini: “My aim in these lectures … was in fact to let some new shafts of light on Paul, even if that meant carving a notch through some of the traditional ways of studying him, and to observe closely how he goes about certain tasks, even if that meant
employing for the purpose the hermeneutical equivalents of new telescopes” (hal. ix).
Bagian pertama yang membahas tentang Tema terdiri dari empat pasal. Pada pasal pertama, “Paul’s World, Paul’s Legacy” Wright membahas tentang Dunia Paulus, Warisan Paulus. Bagian ini di mulai dengan tiga dunia yang membentuk pemikiran Paulus yaitu Yudaisme Bait Allah Kedua, dunia helenis, dan Kekaisaran Romawi. Bagi Wright, berbicara mengenai penciptaan sampai kepada akhir zaman tidak bisa terlepas kekayaan cerita dari Perjanjian Lama. Tetapi Paulus yang hidup dalam dunia helenis juga memandang bahwa cerita Kristen sesungguhnya adalah bagian dari sejarah dunia juga. Dalam bagian pertama ini juga Wright memperkenalkan studi naratif sebagai metode yang ia gunakan. Wright percaya bahwa menemukan kembali dimensi narasi dari pemikiran Paulus adalah salah satu perkembangan yang sangat signifikandi mana revolusi dari “new perspective” telah berlangsung dengan cepat dan hal tersebut memungkinkannya untuk mengartikulasikan kembali “new perspective” ini sekaligus menangkal kritik atasnya (hal. 13).
Pada pasal kedua, “Creation and Covenant” Wright menunjukan bagaimana penciptaan dan kovenan dikombinasikan dalam pemikiran Paulus sebab keduanya merupakan hal sentral bagi Yudaisme. Wright memulai pembahasannya dengan penciptaan dan kovenan di dalam Perjanjian Lama lalu menjelaskan tiga bagian utama dari Surat Paulus yang berbicara mengenai penciptaan dan kovenan. Pertama, Kolose 1:15-20 yang menekankan Mesias sebagai perwujudan dari gambar dan rupa Allah dan merupakan yang sulung dari ciptaan. Menurut Wright, Paulus ingin menunjukkan bahwa Kristus adalah penggenapan dari Kejadian 1:26. Kedua, 1 Korintus 15 di mana Paulus kembali menunjuk kepada Kejadian 3 bahwa terdapat kekontrasan yang nyata, Adam yang jatuh ke dalam dosa akhirnya mati dan akibatnya semua orang pada akhirnya juga mati tetapi Mesias justru membawa kehidupan melalui kebangkitan-Nya. Ketiga, Roma 1-11 di mana Allah Allah telah memanggil Israel untuk menjadi cahaya bangsa-bangsa, guru bagi yang bodoh, penuntun bagi yang buta. Inilah fungsi dari kovenan tersebut. Umat Perjanjian justru menjadi bagian dari masalah, bukan solusi bagi masalah yang ada.
Pada pasal ketiga, “Messsiah and Apocalyptic” Wright meringkaskan pengharapan mesianis Yahudi yang oleh Paulus disebut Christos yaitu: 1) Mesias adalah raja Israel yang sejati dan juga raja atas seluruh dunia. 2) Mesias akan memenangkan pertempuran terakhir bagi Israel atas segala kejahatan dan penyembahan berhala. 3) Mesias akan membangun bait Allah, tempat di mana Allah akan kembali dan tinggal. 4) Mesias akan membawa sejarah Israel kepada klimaksnya. 5) Mesias akan bertindak sebagai wakil Israel. 6) Mesias akan bertindak sebagai wakil Allah atau perantara kepada Israel dan akhirnya kepada seluruh dunia.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa Paulus tidak secara gamblang dan terang-terangan mengatakannya dalam surat-suratnya? Ada dua alasan utama untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, terkait dengan misi Paulus kepada orang non Yahudi. Paulus sesungguhnya melakukan “a translation Jewish ideas into gentile.” Paulus tidak menekankan Yesus sebagai Mesias karena tidak memiliki arti apa-apa bagi kalangan non Yahudi. Itu sebabnya Paulus memilih sebutan Kurios daripada Mesias. Kedua, Mesias seringkali dipahami sebagai Mesias politis sehingga Paulus ingin memberikan penekanan Mesias religius, bukan politis. Sementara itu bagi Paulus, istilah  'apokaliptik' tersebut bersifat tiba-tiba, dramatis dan mengejutkan, menyingkapkan kebenaran rahasia, seperti sinar surgawi yang tiba-tiba bercahaya dalam dunia yang gelap, dan hal ini sesuai dengan rencana dan maksud Allah.
Pada pasal keempat, “Gospel and Empire” Wright menjelaskan bahwa pesan teologis Paulus melalui konsep penciptaan dan kovenan, Mesias dan apokaliptik, merupakan sebuah subversi terhadap ideologi dari kekaisaran Romawi. Kebangkitan dari Mesias yang tersalib tidak hanya memiliki fungsi historis atau teologis tetapi juga mengandung symbol yaitu: “The symbol of a power which upstages anything military power can do.” Menurut Wright, keyakinan Paulus mengenai Allah yang esa, pencipta dan pemerintah, perjanjianNya yang akan membebaskan umat-Nya dari penindasan bangsa asing, teologi mesianisnya yang meninggikan Yesus sebagai raja, Tuhan, dan Juruselamat, dan teologi apokaliptiknya yang melihat Allah telah menyikapkan keadilannya yang menyelamatkan melalui kematian dan kebangkitan sang mesias,- semua hal tersebut memimpin Paulus kepada pemberitaan Injil dalam antitesisnya dengan ideologi kekaisaran Romawi. Wright mengilustrasikannya dengan melihat pemilihan kata yang digunakan oleh Paulus seperti kyrios, soter/soteria, parousia, apantesis, euangelion, dikaiosyne, serta beberapa teks yang dapat ditemukan dalam  Flp. 2-3; 1 Tes. 4:13-5:11; 1 Kor 2; 15; dan Rom. 1:3–4/15:12.
Pada bagian kedua dari bukunya ini, Wright berpandangan bahwa Paulus melakukan definisi ulang (redefinisi) terhadap tiga pemahaman teologis Yahudi, yaitu tentang Allah, umat Allah, dan masa depan umat Allah dan dunia. Pada pasal kelima, “Rethinking God” Wright meyakini bahwa konsep monotheisme yang dipegang oleh Paulus jelas berakar pada keyakinan Yahudi. Suatu keyakinan yang jelas bertentangan dengan pemahaman panthesime yang dianut kaum stoa atau deisme yang dianut kaum epikurus. Hal tersebut dipertegas di dalam Filipi 2:6-11 di mana Paulus memahami manusia Yesus Kristus “to be identical with one who from all eternity was equal with the creator God, and who gave fresh expression to what that equality meant by incarnation, humiliating suffering, and death.”
Pada pasal keenam, “Reworking God’s People” Wright menjelaskan konsep pemilihan menurut Yahudi yang menyangkut status istimewa Israel sebagai umat yang dikhususkan, dan sebagai bagian dari pemilihan tersebut maka mereka diberikan tanah dan hidup menurut Taurat. Akan tetapi konsep pemilihan ini kemudian didefinisikan ulang oleh Paulus. Baginya, pemilihan Allah atas umatNya harus dilihat dalam terang kematian dan kebangkitan Kristus.
Pada pasal ketujuh, “Reimagining God’s Future,”Wright meringkaskan tentang komplekstitas pengharapan eskatologi Yahudi yang diwakili dengan istilah hari TUHAN, kerahaan Allah, kemangan atas bangsa kafir, pembebasan Israel, berakhirnya pembuangan, kedatangan mesias, kedatangan Allah sendiri, dan kebangkitan orang mati. Wright kemudian menarik suatu kesimpulan bahwa semua hal tersebut telah hadir di dalam diri Yesus sang Mesias yang merupakan pusat dari teologi Paulus. Wright juga memandang beberapa karakteristik tema yang diusung oleh Paulus telah diletakkan olehnya dalam ketegangan antara apa yang telah terjadi pada saat kedatangan mesias dan apa yang masih akan terjadi pada the ultimate end.
Pada pasal terakhir, “Jesus, Paul and the Task of the Church,” Wright kemudian melihat bagaimana redefinisi dari teologi Yahudi yang sebelumnya dijelaskan dalam pasal 5-7 telah dikerjakan dalam kehidupan Paulus dan gereja secara nyata. Akhirnya, Wright melengkapi bukunya ini dengan sebuah refleksi dan implikasinya bagi tugas gereja pada masa kini.
Buku ini memberikan survei ringkas tentang pemahaman teologis Paulus meskipun isinya tidak sepenuhnya baru. Meskipun demikian, Wright mampu menarik suatu garis lurus dari new perspective (yang berfokus kepada isu pembenaran dan umat Allah) kepada keseluruhan dari pemikiran teologi Paulus. Wright juga mampu melihat dengan jelas bagaimana narasi Perjanjian Lama tentang penciptaan, perjanjian, keluaran dan pembuangan disintesiskan ke dalam tiga pemahaman teologi klasik Yahudi yang kemudian didefinisikan ulang olehnya. Penafsiran yang dilakukan oleh Wright ini harus diakui telah memberikan masukan yang sangat brilian di dalam menafsirkan pemahaman Paulus akan Perjanjian Lama yang ia kutip dalam surat-suratnya.  Dengan demikian buku ini memberikan pemaparan dan perspektif yang baru dan segar kepada pemikiran Paulus, sesuai dengan judul buku ini “fresh perspective.”
Wright telah menghadirkan suatu buku yang menstimulasi pembacanya. Di dalamnya ia telah berhasil membuat pembacanya terkagum-kagum dengan pemikirannya yang brilian, sistematis, dengan pemahaman biblika yang solid namun tetap menaruh perhatian kepada masalah pastoral.
Meskipun oleh kebanyakan sarjana Alkitab, pandangan Wright -yang jelas-jelas merupakan salah satu pendukung New Perspective on Paul (NPP)- menuai banyak menuai kritik, akan tetapi pandangan tersebut harus diakui perlu untuk dipikirkan. Wright bukan hanya memegang pemahaman  NPP, tetapi juga memberikan suatu new approach to New Perspective on Paul yang semakin membukakan mata para sarjana Alkitab yang ingin mempelajari teologi Paulus dengan sungguh-sungguh. Pandangan tersebut telah memberikan sumbangsih yang nyata sekaligus memperteguh kekayaan teologi Kristen.