N.
T. Wright. Paul: Fresh Perspectives.
London: SPCK, 2005. 174 halaman.
Buku karangan N. T. Wright ini
merupakan bahan kuliah yang Ia bawakan ketika mengajar di Cambridge University. Buku ini terdiri dari dua bagian besar yaitu yang ia beri judul Tema
dan Struktur dan setiap bagian terbagi dari empat pasal. Dari judul buku ini
terlihat jelas bahwa Wright tidak menghadirkan suatu studi tradisional tentang
pemahaman Paulus melainkan suatu pemahaman yang baru tentang teologi Paulus.
Hal tersebut
tergambar dengan jelas pada bagian pengantar dari buku ini: “My aim in these lectures … was
in fact to let some new shafts of light on Paul, even if that meant carving a
notch through some of the traditional ways of studying him, and to observe
closely how he goes about certain tasks, even if that meant
employing for the purpose the hermeneutical equivalents of
new telescopes” (hal. ix).
Bagian pertama yang
membahas tentang Tema terdiri dari empat pasal. Pada pasal pertama, “Paul’s World, Paul’s Legacy” Wright
membahas tentang Dunia Paulus, Warisan Paulus. Bagian ini di mulai dengan tiga
dunia yang membentuk pemikiran Paulus yaitu Yudaisme Bait Allah Kedua, dunia helenis,
dan Kekaisaran Romawi. Bagi Wright, berbicara mengenai penciptaan sampai kepada
akhir zaman tidak bisa terlepas kekayaan cerita dari Perjanjian Lama. Tetapi
Paulus yang hidup dalam dunia helenis juga memandang bahwa cerita Kristen
sesungguhnya adalah bagian dari sejarah dunia juga. Dalam bagian pertama ini
juga Wright memperkenalkan studi naratif sebagai metode yang ia gunakan. Wright
percaya bahwa menemukan kembali dimensi narasi dari pemikiran Paulus adalah
salah satu perkembangan yang sangat signifikandi mana revolusi dari “new
perspective” telah berlangsung dengan cepat dan hal tersebut memungkinkannya
untuk mengartikulasikan kembali “new perspective” ini sekaligus menangkal
kritik atasnya (hal. 13).
Pada pasal kedua, “Creation and
Covenant” Wright menunjukan bagaimana penciptaan dan kovenan dikombinasikan
dalam pemikiran Paulus sebab keduanya merupakan hal sentral bagi Yudaisme. Wright memulai
pembahasannya dengan penciptaan dan kovenan di dalam Perjanjian Lama lalu menjelaskan
tiga bagian utama dari Surat Paulus yang berbicara mengenai penciptaan dan
kovenan. Pertama, Kolose 1:15-20 yang
menekankan Mesias sebagai perwujudan dari gambar dan rupa Allah dan merupakan
yang sulung dari ciptaan. Menurut Wright, Paulus ingin menunjukkan bahwa
Kristus adalah penggenapan dari Kejadian 1:26. Kedua, 1 Korintus 15 di mana Paulus kembali menunjuk kepada
Kejadian 3 bahwa terdapat kekontrasan yang nyata, Adam
yang jatuh ke dalam dosa akhirnya mati dan akibatnya semua orang pada akhirnya
juga mati tetapi Mesias justru membawa kehidupan melalui kebangkitan-Nya. Ketiga, Roma 1-11 di mana Allah Allah telah
memanggil Israel untuk menjadi cahaya bangsa-bangsa,
guru bagi yang bodoh, penuntun bagi yang
buta. Inilah fungsi dari kovenan tersebut.
Umat Perjanjian justru menjadi bagian dari masalah, bukan solusi bagi masalah
yang ada.
Pada pasal ketiga, “Messsiah and Apocalyptic” Wright meringkaskan pengharapan mesianis
Yahudi yang oleh Paulus disebut Christos yaitu:
1) Mesias adalah raja Israel yang sejati dan juga raja atas seluruh dunia. 2) Mesias
akan memenangkan pertempuran terakhir bagi Israel atas segala kejahatan dan
penyembahan berhala. 3) Mesias akan membangun bait Allah, tempat di mana Allah
akan kembali dan tinggal. 4) Mesias akan membawa sejarah Israel kepada
klimaksnya. 5) Mesias akan bertindak sebagai wakil Israel. 6) Mesias akan
bertindak sebagai wakil Allah atau perantara kepada Israel dan akhirnya kepada
seluruh dunia.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa Paulus tidak secara gamblang dan terang-terangan
mengatakannya dalam surat-suratnya? Ada dua alasan utama untuk menjawab
pertanyaan ini. Pertama, terkait
dengan misi Paulus kepada orang non Yahudi. Paulus sesungguhnya melakukan “a translation Jewish ideas into gentile.” Paulus tidak menekankan Yesus sebagai Mesias karena tidak memiliki
arti apa-apa bagi kalangan non Yahudi. Itu sebabnya Paulus memilih sebutan Kurios daripada Mesias. Kedua, Mesias
seringkali dipahami sebagai Mesias politis sehingga Paulus ingin memberikan
penekanan Mesias religius, bukan politis. Sementara itu bagi Paulus, istilah 'apokaliptik' tersebut bersifat tiba-tiba,
dramatis dan mengejutkan, menyingkapkan kebenaran rahasia, seperti sinar
surgawi yang tiba-tiba bercahaya dalam dunia yang gelap, dan hal ini sesuai
dengan rencana dan maksud Allah.
Pada pasal keempat, “Gospel and Empire” Wright menjelaskan
bahwa pesan teologis Paulus melalui konsep penciptaan dan kovenan, Mesias dan
apokaliptik, merupakan sebuah subversi terhadap ideologi dari kekaisaran
Romawi. Kebangkitan dari Mesias yang tersalib tidak hanya memiliki fungsi historis
atau teologis tetapi juga mengandung symbol yaitu: “The symbol of a power which
upstages anything military power can do.” Menurut Wright, keyakinan Paulus
mengenai Allah yang esa, pencipta dan pemerintah, perjanjianNya yang akan membebaskan
umat-Nya dari penindasan bangsa asing, teologi mesianisnya yang meninggikan
Yesus sebagai raja, Tuhan, dan Juruselamat, dan teologi apokaliptiknya yang
melihat Allah telah menyikapkan keadilannya yang menyelamatkan melalui kematian
dan kebangkitan sang mesias,- semua hal tersebut memimpin Paulus kepada
pemberitaan Injil dalam antitesisnya dengan ideologi kekaisaran Romawi. Wright mengilustrasikannya
dengan melihat pemilihan kata yang digunakan oleh Paulus seperti kyrios,
soter/soteria, parousia, apantesis, euangelion, dikaiosyne, serta beberapa teks yang dapat ditemukan
dalam Flp. 2-3; 1 Tes. 4:13-5:11;
1 Kor 2; 15; dan Rom. 1:3–4/15:12.
Pada bagian kedua dari bukunya ini,
Wright berpandangan bahwa Paulus melakukan definisi ulang (redefinisi) terhadap
tiga pemahaman teologis Yahudi, yaitu tentang Allah, umat Allah, dan masa depan
umat Allah dan dunia. Pada pasal kelima, “Rethinking
God” Wright meyakini bahwa konsep monotheisme yang dipegang oleh Paulus
jelas berakar pada keyakinan Yahudi. Suatu keyakinan yang jelas bertentangan
dengan pemahaman panthesime yang dianut kaum stoa atau deisme yang dianut kaum
epikurus. Hal tersebut dipertegas di dalam Filipi 2:6-11 di mana Paulus
memahami manusia Yesus Kristus “to be
identical with one who from all eternity was equal with the creator God, and
who gave fresh expression to what that equality meant by incarnation,
humiliating suffering, and death.”
Pada pasal keenam, “Reworking God’s People” Wright menjelaskan konsep pemilihan menurut
Yahudi yang menyangkut status istimewa Israel sebagai umat yang dikhususkan,
dan sebagai bagian dari pemilihan tersebut maka mereka diberikan tanah dan
hidup menurut Taurat. Akan tetapi konsep pemilihan ini kemudian didefinisikan
ulang oleh Paulus. Baginya, pemilihan Allah atas umatNya harus dilihat dalam
terang kematian dan kebangkitan Kristus.
Pada pasal ketujuh, “Reimagining God’s Future,”Wright meringkaskan tentang
komplekstitas pengharapan eskatologi Yahudi yang diwakili dengan istilah hari
TUHAN, kerahaan Allah, kemangan atas bangsa kafir, pembebasan Israel,
berakhirnya pembuangan, kedatangan mesias, kedatangan Allah sendiri, dan
kebangkitan orang mati. Wright kemudian menarik suatu kesimpulan bahwa semua
hal tersebut telah hadir di dalam diri Yesus sang Mesias yang merupakan pusat
dari teologi Paulus. Wright juga memandang beberapa karakteristik tema yang
diusung oleh Paulus telah diletakkan olehnya dalam ketegangan antara apa yang
telah terjadi pada saat kedatangan mesias dan apa yang masih akan terjadi pada the ultimate end.
Pada pasal terakhir, “Jesus, Paul and the Task of the Church,” Wright
kemudian melihat bagaimana redefinisi dari teologi Yahudi yang sebelumnya
dijelaskan dalam pasal 5-7 telah dikerjakan dalam kehidupan Paulus dan gereja
secara nyata. Akhirnya, Wright melengkapi bukunya ini dengan sebuah refleksi
dan implikasinya bagi tugas gereja pada masa kini.
Buku ini memberikan survei ringkas tentang pemahaman teologis Paulus
meskipun isinya tidak sepenuhnya baru. Meskipun demikian, Wright mampu menarik
suatu garis lurus dari new perspective (yang berfokus kepada isu pembenaran dan
umat Allah) kepada keseluruhan dari pemikiran teologi Paulus. Wright juga mampu
melihat dengan jelas bagaimana narasi Perjanjian Lama tentang penciptaan,
perjanjian, keluaran dan pembuangan disintesiskan ke dalam tiga pemahaman
teologi klasik Yahudi yang kemudian didefinisikan ulang olehnya. Penafsiran
yang dilakukan oleh Wright ini harus diakui telah memberikan masukan yang
sangat brilian di dalam menafsirkan pemahaman Paulus akan Perjanjian Lama yang
ia kutip dalam surat-suratnya. Dengan
demikian buku ini memberikan pemaparan dan perspektif yang baru dan segar
kepada pemikiran Paulus, sesuai dengan judul buku ini “fresh perspective.”
Wright telah menghadirkan suatu buku yang menstimulasi pembacanya. Di
dalamnya ia telah berhasil membuat pembacanya terkagum-kagum dengan
pemikirannya yang brilian, sistematis, dengan pemahaman biblika yang solid namun
tetap menaruh perhatian kepada masalah pastoral.
Meskipun oleh kebanyakan sarjana Alkitab,
pandangan Wright -yang jelas-jelas merupakan salah satu pendukung New Perspective
on Paul (NPP)- menuai banyak menuai kritik, akan tetapi pandangan tersebut
harus diakui perlu untuk dipikirkan. Wright bukan hanya memegang pemahaman NPP, tetapi juga memberikan suatu new approach to New Perspective on Paul yang semakin membukakan mata para sarjana
Alkitab yang ingin mempelajari teologi Paulus dengan sungguh-sungguh. Pandangan tersebut telah memberikan sumbangsih
yang nyata sekaligus memperteguh kekayaan teologi Kristen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar